Sabtu, 01 Oktober 2016

Resume Kelompok 7 "dumpster diving" ,20-09-16

 Dumpster diving, adalah mendapatkan akses ke informasi rahasia dengan cara melihat-lihat catatan perusahaan. Metode pencarian (scavenging) bisa dalam bentuk mengaduk-aduk tong sampah untuk melihat hasil cetakan atau salinan informasi rahasia, hingga pemeriksaan isi memori komputer.


Cara pengumpulan informasi yang lebih hebat lagi menggunakan teknik dumpster diving atau teknik memulung sampah. Bagaimana sampai begitu berharganya sampah kantor? Pernahkah Anda melihat rekan kerja atau karyawan Anda atau bahkan Anda sendiri menuliskan user ID dan password pada lembaran post-it? Coba bayangkan kalau lembaran kecil ini menjadi sampah. Pasti ada orang yang girang memungutnya. Sampah berupa lembaran buku telefon dan kertas salah cetak berisi organigram kantor akan memberi petunjuk mengetahui nama, lokasi karyawan, serta struktur jabatan. Kalau lembaran terbuang tadi berupa peraturan dan manual cara kerja, maka menolong penjahat memahami prosedur dan peraturan kantor, sehingga sangat mudah untuk meyakinkan karyawan lain bahwa dia betul-betul orang dalam yang paham aturan kantor.
Pendek kata, jangan pernah meremehkan informasi yang terbawa dalam sampah di kantor Anda. Sekali membuangnya, bisa jadi Anda akan menyesal berkepanjangan. Satu lagi yang harus diingat, sekali barang masuk kotak sampah, tindakan mengambil sampah adalah tindakan legal. Kenapa begitu? Dalam bukunya Theft and Dumpster Diving, Richards J. Heuer, Jr., menyebutkan aturan Supreme Court AS tahun 1988 bahwa sekali suatu barang masuk tempat sampah (dibuang), maka hak kepemilikannya akan otomatis hilang. Barangkali di Indonesia tak sejelas itu hukumnya, tapi rasanya sulit juga menang melawan pemulung yang benar-benar mengambil sampah.
Dumpster diving sebenarnya hanyalah salah satu dari beberapa teknik penipuan cerdas yang disebut sebagai social engineering. Teknik lain seperti yang dipraktikkan Stanley Rifkin antara lain direct approach (langsung meminta informasi ke seorang karyawan), spying and eavesdropping (mematai-matai dan nguping), technical expert (mengaku sebagai teknisi), support staff (berpura-pura sebagai pembantu umum di kantor), the voice of authority (mengitimidasi karyawan dengan bersuara mirip bos). Ada juga teknik lain yang disebut Reverse Social Engineering (RSE), si pelaku akan melakukan kerusakan pada komputer target, lalu dia datang sebagai penolong.

Cara mencegah : 
-Pemusnahan dokumen-dokumen sensitif sebaiknya secara terpusat, yang terpercaya personelnya. Dokumen-dokumen lama sebaiknya dimusnahkan secara reguler. Untuk sampah digital perlakukan lebih khusus. Letakkan secara terpisah tempat sampah untuk disket dan CD, pasang magnet di kotak sampah untuk menghapuskan data dari disket, bila diambil orang yang tidak berhak. Beri edukasi pada manajemen dan staf betapa bahayanya bila sampah tak terdeteksi. Terakhir, lakukan audit secara periodik setiap staf (termasuk cleaning service) ke mana dibuangnya sampah-sampah dari kantor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar